Setelah acara seminar dari pagi hingga sore di hari , malam harinya ada sedikit pembahasan mengenai kurikulum inti APTIKOM. Kurikulum ini secara sedikit guyon dinamakan KURIKULUM BERBASIS OBJEK. Artinya setiap universitas memiliki hak untuk menentukan ciri khas dari masing-masing prodi Informatika dan komputer. Misalnya UPN mempunyai ciri pengembangan software yang digunakan untuk perang
. Untuk kepolisian Univesitas Bhayangkara , Untuk urusan Haji ada UIN dan lain-lain. APTIKOM hanya memberikan rambu-rambu mata kuliah inti yang harus ada sekitar 65 % , sisanya sebesar 35 % dikembangkan sendiri olehprodi ybs. Setelah pembahasan kurikulum Seluruh rangkaian kegiatan RAKORNAS ditutup dan dilanjutkan dengan persiapan tour ke Singapore dan Johor Bahru.
Pada malam itu juga dikembalikan lagi paspor yang sebelumnya dikumpulkan untuk dimasukkan ke imigrasi untuk mempercepat proses pemeriksaan keimigrasian di SIN maupun Malaysia dan juga pembayaran fiskal sebesar Rp. 500.000,00.
Dalam hal ini panitia patut mendapat acungan jempol. Bayangkan saja peserta tour ke SIN dan MAS ini sejumlah 197 peserta + panitia jadi 200 orang lebih. Hal ini membuat pihak Singapore keder juga, 200 orang nggruduk Singapore, kayak mau perang aja. Untuk membuat segala sesuatunya lancar, panitia membuat jadwal tour yang sangat ketat. Kita harus bangun jam 4 pagi untuk kemudiane berkumpul dan mulai berangkat dari hotel menuju dermaga Stulang Batam jam 5 pagi. Wah kalo begini namanya bukan tour tapi OPSPEK
.
Mau tidak mau ya harus dituruti, strategi pasang alarm dan juga oleh panitia dilakukan morning call . Tepat jam empat alarm berbunyi walau dengan terkantuk kantuk segera ke bath room dan mandi. Kemudian turun untuk sarapan pagi.
Jam lima pagi aku sudah berada di bis untuk menuju ke pelabuhan. Karena belum sholat subuh terpaksa solat kulaksanakan di bis. Perjalanan menuju dermaga Stulang hanya memerlukan waktu 30 menit, karena masih pagi, kalau agaksiangan dikit pasti sudah kena macet. Batam yang termasuk kecil ini ternyata sudah mulai macet juga. Sampai di dermaga kita langsung menuju kapal. Dalam hal ini kita mendapat perlakuan istimewa dengan menggunakan fasilitas EXPRESS BOARDING. Jadi begitu tahu kita rombongan APTIKOM langsung bisa boarding tanpa seleksi yang terlalu ketat.
Pukul 6.30 semua peserta tour sudah berada di Fast Ferry yang akan menyeberangkan kita ke Singapura. Ferry ini memang khusus dicarter untuk tour ke Singapore oleh Panitia. Perjalanan menggunakan Ferry ini memakan waktu 1 jam an. Ternyata Batam Singapore itu sangat dekat. Tak heran maka banyak orang Batam yang bolak balik ke Singapore sekedar untuk menikmati fasilitas internet yang sangat cepat. Di dalam perjalanan suasana sangat ramai. Aku mengambil tempat duduk yang berada diluar sehingga dapat memandang langsung lautan. Aksi foto memoto menjadi acara wajib sepanjang perjalanan tersebut. Tapi sayang ternyata cuaca kurang bersahabat, ditengah perjalan turun hujan sehingga kemeriahan agak sedikit terganggu. Sempat terjadi gangguan ketika Ferry tiba-tiba melambat karena baling2 tersangkut “barang asing” mungkin sampah. Setelah dibersihkan parjalanan menjadi normal kembali. Ketika mendekati dermaga Singapore banyak dari peserta tour yang berdecak kagum dengan keindahan dan kerapian kota Singapore. Kota ini benar-benar tertata dengan baik. Sempat terlihat dari kapal kereta gantung yang berayun di atas kota Singapure. Kayaknya kereta gantung ini juga jadi sarana transportasi di Singapure dan menjadi salahsatu daya tarik wisata di Singapore.
Kapal merapat di Singapore kurang lebih jam 7.45 waktu jam Indonesia. Terdapat perbedaan 1 jam antara Indonesia dengan Singapure. Disinilah aku mulai merasakan perbedaan antara Indonesia dan Singapore. Disiplin dan kebersihan terlihat pada pintu gerbang untuk masuk ke Singapore. Pihak imigrasi sangat berhati-hati terhadap orang asing yang dicurigai akan melakukan aksi terorisme. Pihak Singapore meamang sangat ketat untuk melindungi warganya dari aksi yang tidak bertanggung jawab. Beberapa orang yang “dicurigai” ekstrim pemeriksaan dokumen pasportnya disendirikan. Mereka disuruh masuk ke ruangan imigrasi. Sedang yang tidak memcurigakan bisa langsung melewati imigrasi lebih cepat. Alhamdulillah seluruh peserta tour “lolos” dari pemeriksaan imigrasi. Sebelumnya kita memang sudah diwanti-wanti untuk tidak membawa CD bajakan, permen karet dan minyak wangi dll. Setelah itu ke 200 peserta tour ini dibagi menjadi 4 kelompok untuk pembagian bis selama berada di Singapore. Acara selanjutnya adalah kunjungan ke Nanyang Technologi University pada jam 11.00 waktu Singapore, berarti masih ada waktu satu jam untuk berkeliling mall disekitar dermaga Singapore. Kami pun berkeliling-keliling dan masuk ke Star Buck Coffee untuk memesan kopi Capucino. Harganya ternyata cukup mahal 9 dollar SIN (kira2 Rp 50.000 ), satu gelas besar.
Jam 9.30 menit kami naik ke bis untuk melanjutkan perjalanan ke NTU. Disepanjang perjalanan tak henti2nya aku berdecak kagum atas kebersihan dan kerapian kota Singapore. Jalan yang lebar, kendaraan yang relatif masih baru. Tidak ditemukan Toyota Corolla DX yang kalo di Indonesia masih banyak yang bersliweran di jalan. Apartemen yang tertata rapi, tanaman dan pohon yang hijau dan rindang. Hampir tidak terdengar bunyi klakson.
Memasuki kompleks kampus NTU aku makin terpana atas landscape campus ini, jan apik tenan. Aku sempat memotret gedung-gedung jurusan2 yang ada disitu. Sayangnya hanya 30 orang yang diperkenankan masuk untuk bertemu langsung dengan pengurus Fakultas Computer Science NTU. Yang lainnya termasuk aku hanya bisa menyaksikan keindahan dan modernya NTU dari dalam bis. Sekitar 15 menit kita dibawa pusing-pusing mengelilingi kampus NTU. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke ORCHAD ROAD. Salah satu pusat perbelanjaan di Singapore yang banyak dikunjungi oleh orang Indonesia
Setibanya di ORCHAD ROAD kami “dilepas” oleh panitia untuk acara bebas samapi dengan pukul 17.00. Artinya cukup lama berada di Singapore. Ya Singapore memang tahu persis bagaimana memberikan pelayanan bagi wisatwan yang berkunjung ke negaranya. Sepanjang Orchad Road emang disediakan pedestrian yang cukup lebar hingga orang bisa dengan leluasa berjalan kaki. Tapi ada yang berbeda dengan orang Singapore. Langkah mereka cepat sekali, kita yang jalan dengan santai heran juga. Ternyata kebiasaan mereka memang seperti itu. Acara yang paling utama sudah tentu adalah photo session. Sebagai bukti bahwa kita sudah pernah ke Luar Negeri
. Tak berapa lama setelah jalan-jalan, tim UPN ( aku, pak Herry, bu Hafsah dan Pak Gunarto) memutuskan untuk mencari makan, karena sudah waktunya makan siang. Mencari MC Donald kok gak ketemu-ketemu akhirnya kita masuk ke restoran SWENSEN’S. Aku pesan menu yang belum pernah aku makan yaitu Ikan Salmon Nasi Bakar. Ternyata setelah disajikan seperti nasi goreng yang dilapisi ikan salmon. Wah harganya ternyata fantastis juga, sekitar 30 dollar SIN. Yah sekali dalam seumur hidup. Mungkin itulah makananku yang termahal
.
Perjalanan di sekitar Orchad Road kami lanjutkan, ada petunjuk jalan mengarahkan pejalan kaki menuju stasiun subway SIN. Kita ikuti petunjuk tersebut yang menuntun kita menuju stasion pemberhentian kereta bawah tanah. Kebetulan bangunan menuju stasiun subway masih dalam tahap renovasi. Tapi hebatnya proses renovasi tersebut tidak terlalu kelihatan, dan sekali lagi sangat meperhatikan keamanan dan kenyaman publik. Lorong bawah tanah menuju stasiun juga terlihat bersih dan penuh dengan mural yang menarik. Penginnya sih naik subway tersebut, tapi takut nyasar dan takut ketinggalan sama rombongan yang lain. Setelah foto-foto sebentar, perjalanan dilanjutkan ke mall, Takashimaya Shopping Centre. Hampir sama dengan mall yang ada di Indonesia, lihat lihat barang barang yang dijual. Harganya muahal2.
Di mall tersebut aku menghubungi Mr Kailash dari Arena Multimedia untuk mengadakan pertemuan yang telah kita sepakati sebelumnya. Mr Kailash yang berkantor di Robonson Park segera meluncur menuju Orchad Road yang katanya jaraknya cukup jauh. Cukup lama juga aku menunggu dia, sambil muter2 liat barang2 yang harganya tak terjangkau olehku
. Setelah cukup lama menunggu muncullah dua orang India yang salah satunya pernah aku temui di kampus UPN Mr. Kailash. Kemudian kami mencari tempat, lagi-lagi pilihannya di Cafe Coffee, Mr. Kailash critanya nraktir aku nih. Tapi karena waktunya sangat mepet kami tidak terlalu lama berbincang-bincang. Intinya kami sepakat untuk mewujudkan kerjasama antara Arena Multimedia dengan UPN. Jam 16.15 aku segera berpamitan dengan Kailash, foto-foto sebentar kemudian aku bergabung kembali dengan teman-teman yang lain. Sempat juga Mr Kailash dan Rajeev berfoto bersama kami ( foto-foto akan segera aku upload :) ). Setelah menunggu 60 menit bus yang kami tumpangi tadi datang kembali untuk membawa kami menuju Johor Malaysia, Goodby Singapore….It’ a great journey





“Tidak ditemukan Toyota Corolla DX yang kalo di Indonesia masih banyak yang bersliweran di jalan.”
sopo ya? ….
Pembaca setia menunggu cerita berikutnya (seperti sudah diduga sebelumnya, Pemeran utama dalam cerita ini pasti Gumun terus
)
Ketoke nyindir mobile salah satu dosen IF ki?!
Wuah kok nggak oleh nemuin pengurus Computer Science-nya, sayang yo nggak bisa ikut diskusi langsung dgn mereka…
“Yar We” atau “ditanggung Fakultas”? khan jalan2 ama pejabat!
By: tonydwisusanto on September 9, 2008
at 4:37 am
singapore to johor..wah its great tour but..
. Untuk kepolisian Univesitas Bhayangkara….?? software perang??
200 orang wah banyak…sekali.. iya pak seperti singapura..digeruduk.. tapi ini ni yg penasaran?
UPN mempunyai ciri pengembangan software yang digunakan untuk perang
By: yuda on October 15, 2008
at 12:53 am