Seminggu yang lalu, di kampungku telah dilangsungkan pemilihan kepala dukuh. Akhirnya dengan melalui proses yang demokratis, aman dan damai terpilihlah kepala dukuh yang baru. Sempat timbul kekhawatiran akan terjadi kekacauan, mengingat calon yang ikut serta dalam pemilihan cukup banyak, 7 calon. Serangan fajar yang sempat dilhawatirkan akan terjadi, toh tidak terbukti kebenarannya (walau untuk yang satu ini sulit sekali dilacak apa memang bersih dari politik uang). Yang menarik, pak dukuh trpilih ini masih single, 26 tahun , dan teman main badmintonku di kampung. Sehingga agak canggung juga manggilnya sekarang. Dipanggil pak dukuh, belum beristri, dipanggil dukuh, kok kurang sopan, yah akhirnya dipanggil mas dukuh aja. Kalo dirunut ke belakang didalam kampanyenya , mas dukuh ini cukup berani menjanjikan perubahan. Dia akan membelikan traktor bagi warganya untuk bisa digunakan secara gratis. Membuat kandang sapi yang penggunaannya secara bersama oleh warga ditanah bengkok miliknya. Wajar kalo warga tertarik untuk memilihnya karena iming-iming itu. Yah memang warga didesaku masih lebih melihat hal-hal yang sifatnya fisik dibandingkan dengan hal2 yang sifatnya non fisik. Mudah2an lebih baiklan dusunku. Selamat bekerja Mas Dukuh




